Sebaran, Potensi, dan Hambatan Pengelolaan Padang Lamun

Rabu, 09 Mei 2012


Padang lamun atau biasa disebut seagrass merupakan salah satu ekosistem yang ada di laut. Seagrass apabila diartikan ke bahasa Indonesia berarti rumput laut. Namun sebenarnya telah terjadi salah kaprah penamaan, rumput laut yang biasa kita gunakan sebagai salah satu bahan makanan ataupun bahan komestik merupakan "rumput laut" atau disebut seaweed. Hal ini membuat rancu dalam istilah botani, karena seaweed merupakan alga atau ganggang, sedangkan secara botani, yang dimaksud sebagai rumput laut (seagrass) adalah lamun.
Gambar 2.1. Padang Lamun Dalam Ekositem Laut

Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal yang disusun oleh satu jenis lamun saja atau vegetasi campuran yang disusun mulai dari 2 sampai 12 jenis lamun yang tumbuh bersama pada suatu. Pengertian lamun sendiri yaitu tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang tumbuh dan berkembang baik pada dasar perairan laut dangkal, mulai daerah pasang surut (zona intertidal) sampai dengan daerah sublitoral. Sedangkan Padang Lamun adalah laut dangkal yang didominasi oleh hamparan tumbuhan lamun. Padang lamun dapat terdiri dari vegetasi lamun jenis tunggal ataupun jenis campuran. Padang lamun merupakan tempat berbagai jenis ikan berlindung, mencari makan, bertelur, dan membesarkan anaknya. Ikan baronang, misalnya, adalah salah satu jenis ikan yang hidup di padang lamun.

2.2. Persebaran Padang Lamun (Seagrass Bed )
Padang Lamun merupakan hamparan tumbuhan lamun yang hidup di perairan pesisir atau laut dangkal. Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal.
Indonesia yang memiliki panjang garis pantai 81.000 km, mempunyai padang lamun yang luas bahkan terluas di daerah tropika. Luas padang lamun yang terdapat di perairan Indonesia mencapai sekitar 30.000 km2. Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka dapat dikatakan ekosistem lamun terletak di antara dua ekosistem bahari penting yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang (pada gambar dibawah). Dengan letak yang berdekatan dengan dua ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolasi atau berdiri sendiri tetapi berinteraksi dengan kedua ekosistem tersebut.
Ekosistem padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus dan berbeda dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ciri-ciri ekologis padang lamun antara lain adalah :
1.      Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir
2.      Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang.
3.      Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung
4.      Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan.
5.      Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air termasuk daur generatife.
6.      Mampu hidup di media air asin.
Di daerah Bali penyebaran padang lamun ada di wilayah pesisir Bali Tenggara seperti perairan Pantai Timur Nusa Dua, Pantai Sanur, Pulau Serangan dan Pulau Lembongan. Khusus di perairan Pantai Sanur, padang lamun sangat melimpah pada laguna dan merupakan jenis yang dominan. Ekosistem padang lamun di Bali sudah banyak terdegradasi akibat adanya aktivitas masyarakat dan pembangunan seperti pengambilan batu karang, reklamasi Pulau Serangan dan budidaya rumput laut di Pulau Nusa Penida dan Lembongan, serta aktivitas pariwisata tirta di lokasi yang berdekatan dengan habitat padang lamun tersebut, tak terkecuali yang ada di Pantai Sanur. Namun, tidak hanya di wilayah pesisir Bali, padang lamun di wilayah perairan lainnya pun sudah mulai terganngu ekosistemnya oleh karena ulah manusia dan adanya degradasi lingkungan di sekitarnya.
Oleh karena itu, saat ini sedang dilakukan pemantauan lamun global oleh organisasi SeagrassNet dan Seagrass-Watch. Sebaran lokasi pemantauan lamun tersebut berada di Bali (Sanur), Flores (Riung Komodo), Jawa (Pulau Lima, Teluk Banten, Pulau Klepuh dan Karimun Jawa), Sulawesi (Blongko), serta Komodo (Papagaran dan Seraya Kecil).

2.3. Potensi Padang Lamun (Seagrass Bad)
Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, sebagai berikut:
1.      Sebagai produsen primer : Lamun memiliki tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal seperti ekosistem terumbu karang.
2.      Sebagai habitat biota : Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan makanan berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang (coral fishes).
3.      Sebagai penangkap sedimen : Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan disekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi, padang lamun disini berfungsi sebagai penangkap sedimen dan juga dapat mencegah erosi.
4.      Sebagai pendaur zat hara : Lamun memegang peranan penting dalam pendauran berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka dilingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.
Selain itu secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu :
1.      Produsen detritus dan zat hara.
2.      Mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan system perakaran yang padat dan saling menyilang.
3.      Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.
4.      Sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari.
Gambar 3.1. Potensi Padang Lamun (Seagress Bad)

Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun secara modern. Adapun pemanfaatan lamun tersebut baik secara modern maupun tradisional yaitu sebagai berikut:
Secara Tradisional
Secara Modern
Ø  Dimamfaatkan sebagai pupuk atau kompos
Ø  Cerutu dan mainan anak-anak.
Ø  Dianyam menjadi keranjang.
Ø  Pembuat kasur (sebagai isi kasur).
Ø  Dibuat jarring ikan.
Ø  Penyaring limbah.
Ø  Stabilisasi pantai.
Ø  Bahan untuk pabrik kertas.
Ø  Makanan
Ø  Sumber bahan kimia.
Ø  Obat-obatan.

Di alam padang lamun membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi ekologisnya.
Selain itu, padang lamun diketahui mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik yang didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Nilai ekonomis biota yang berasosiasi dengan lamun diketahui sangat tinggi. Ekosistem padang lamun memiliki nilai pelestarian fungsi ekosistem serta manfaat lainnya di masa mendatang sesuai dengan perkembanga teknologi, yaitu produk obat-obatan dan budidaya laut. Beberapa negara telah memanfaatkan lamun untuk pupuk, bahan kasur, makanan, stabilisator pantai, penyaring limbah, bahan untuk pabrik kertas, bahan kimia, dan sebagainya. Peranan padang lamun secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen yang terlarut dalam air dan menstabilkan dasar sedimen (Kiswara dan Winardi, 1999). Peranannya di perairan laut dangkal adalah kemampuan berproduksi primer yang tinggi yang secara langsung berhubungan erat dengan tingkat kelimpahan produktivitas perikanannya. Keterkaitan perikanan dengan padang lamun sangat sedikit diinformasikan, sehingga perikanan di padang lamun Indonesia hampir tidak pernah diketahui. Keterkaitan antara padang lamun dan perikanan udang lepas pantai sudah dikenal luas di perairan tropika Australia.

2.4. Hambatan Pengelolaan Padang Lamun (Seagress Bad) di Indonesia
Keberadaannya yang berada di daerah estuaria dan pesisir, yang merupakan perbatasan antara daratan dan lautan, menyebabkan padang lamun terancam oleh berbagai faktor yang disebabkan oleh manusia, selain juga oleh perubahan iklim global saat ini.
Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam kenyataannya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman. Gangguan dan ancaman terhadap lamun pada dasarnya seperti yang telah diungkapkan di atas dapat dibagi menjadi dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik).
1.      Gangguan Alam
Fenomena alam seperti tsunami, letusan gunung api, siklon, dapat menimbulkan kerusakan pantai, termasuk juga terhadap padang lamun. Tsunami yang dipicu oleh gempa bawah laut dapat menimbulkan gelombang dahsyat yang menghantam dan memorak-perandakan lingkungan pantai, seperti terjadi dalam tsunami Aceh (2004).
Gempa bumi, seperti gempa bumi Nias (2005) mengangkat sebagian dasar laut hingga terpapar ke atas permukaan dan menenggelamkan bagian lainnya lebih dalam. Debu letusan gunung api seperti letusan Gunung Tambora (1815) dan Krakatau (1883) menyelimuti perairan pantai sekitarnya dengan debu tebal, hingga melenyapkan padang lamun di sekitarnya.
Siklon tropis dapat menimbulkan banyak kerusakan pantai terutama di lintang 10 - 20o Lintang Utara maupun Selatan, seperti yang sering menerpa Filipina dan pantai utara Australia. Kerusakan padang lamun di pantai utara Australia karena diterjang siklon sering dilaporkan. Indonesia yang berlokasi tepat di sabuk katulistiwa, bebas dari jalur siklon, tetapi dapat menerima imbas dari siklon daerah lain. Siklon Lena (1993) di Samudra Hindia misalnya, lintasannya mendekati Timor dan menimbulkan kerusakan besar pada lingkungan pantai di Maumere.
Selain kerusakan fisik akibat aktivitas kebumian, kerusakan lamun karena aktivitas hayati dapat pula menimbulkan dampak negatif pada keberadaan lamun. Sekitar 10 – 15 % produksi lamun menjadi santapan hewan herbivor, yang kemudian masuk dalam jaringan makanan di laut. Di Indonesia, penyu hijau, beberapa jenis ikan, dan bulubabi, mengkonsumsi daun lamun. Duyung tidak saja memakan bagian dedaunannya tetapi juga sampai ke akar dan rimpangnya.
2.      Gangguan dari aktivitas manusia
Pada dasarnya ada empat jenis kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun:
a.       Kerusakan fisik yang menyebabkan degradasi lingkungan, seperti penebangan mangrove, perusakan terumbu karang dan atau rusaknya habitat padang lamun;
b.      Pencemaran laut, baik pencemaran asal darat, maupun dari kegiatan di laut;
c.       Penggunaan alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan;
d.      Tangkap lebih, yakni eksploitasi sumberdaya secara berlebihan hingga melewati kemampuan daya pulihnya karang dari padang lamun untuk bahan konstruksi, atau untuk membuka usaha budidaya rumput laut. Demikian pula terjadi di Teluk Lampung. Di Bintan (Kepulauan Riau) pembangunan resor pariwisata di pantai banyak yang tak mengindahkan garis sempadan pantai, pembangunan resor banyak mengorbankan padang lamun.
Kerusakan Padang Lamun di Indonesia akibat gangguan alam dan aktivitas manusia, adalah sebagai berikut:
1.      Kerusakan fisik
Kerusakan fisik terhadap padang lamun telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Di Pulau Pari dan Teluk Banten, kerusakan padang lamun disebabkan oleh aktivitas perahu-perahu nelayan yang mengeruhkan perairan dan merusak padang lamun. Reklamasi dan pembangunan kawasan industri dan pelabuhan juga telah melenyapkan sejumlah besar daerah padang lamun seperti terjadi di Teluk Banten. Di Teluk Kuta (Lombok) penduduk membongkar karang.
2.      Pencemaran laut
Pencemaran laut dapat bersumber dari darat (land based) ataupun dari kegiatan di laut (sea based). Pencemaran asal darat dapat berupa limbah dari berbagai kegiatan manusia di darat seperti limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, atau pengelolaan lahan yang tak memperhatikan kelestarian lingkungan seperti pembalakan hutan yang menimbulkan erosi dan mengangkut sedimen ke laut. Bahan pencemar asal darat dialirkan ke laut lewat sungai-sungai atau limpasan (runoff).
Masukan hara (terutama fosfat dan nitrat) ke perairan pantai dapat menyebabkan eutrofikasi atau penyuburan berlebihan, yang mengakibatkan timbulnya ledakan populasi plankton (blooming) yang mengganggu pertumbuhan lamun. Epiffit yang hidup menempel di permukaan daun lamun juga dapat tumbuh kelewat subur dan menghambat pertumbuhan lamun. Kegiatan penambangan didarat, seperti tambang bauksit di Bintan, limbahnya terbawa ke pantai dan merusak padang lamun di depannya.
Pencemaran dari kegiatan di laut dapat terjadinya misalnya pada tumpahan minyak di laut, baik dari kegiatan perkapalan dan pelabuhan, pemboran, debalasting muatan kapal tanker. Bencana yang amat besar terjadi saat kecelakaan tabrakan atau kandasnya kapal tanker yang menumpahkan muatan minyaknya ke perairan pantai, seperti kasus kandasnya supertanker Showa Maru yang merusak perairan pantai Kepuluan Riau.
3.      Penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan
Beberapa alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan dapat menimbulkan kerusakan pada padang lamun seperti pukat harimau yang mengeruk dasar laut. Penggunaan bom dan racun sianida juga ditengarai menimbulkan kerusakan padang lamun. Di Lombok Timur dilaporkan kegiatan perikanan dengan bom dan racun yang menyebabkan berkurangnya kerapatan dan luas tutupan lamun.
4.      Tangkap lebih
Salah satu tekanan berat yang menimpa ekosistem padang lamun adalah tangkap lebih (over fishing), yakni eksploitasi sumberdaya perikanan secara berlebihan hingga melampaui kemampuan ekosistem untuk segera memulihkan diri. Tangkap lebih bisa terjadi pada ikan maupun hewan lain yang berasosiasi dengan lamun. Banyak jenis ikan lamun yang kini semakin sulit dicari, dan ukurannya pun semakin kecil.
Demikian pula teripang pasir (Holothuria scabra), dan keong lola (Trochus) yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, sekarang sudah sangat sulit dijumpai dalam alam. Duyung yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada lamun kini telah menjadi hewan langka yang dilindungi, demikian pula dengan penyu, terutama penyu hijau.

Merujuk pada gangguan atau kerusakan padang lamun seperti disebut di atas, maka perlulah diidentifikasi akar masalahnya. Pada dasarnya manusia tak dapat mengontrol dan mengelola fenomena alam seperti tsunami, gempa, siklon. Kita hanya bisa melakukan mitigasi atau penanggulangan akibat yang ditimbulkannya. Di samping itu alam juga mempunyai ketahanan (resilience) dan mekanismenya sendiri untuk memulihkan dirinya dari gangguan sampai batas tertentu.
Dalam pengelolaan padang lamun, yang terpenting adalah mengenali terlebih dahulu akar masalah rusaknya padang lamun yang pada dasarnya bersumber pada perilaku manusia yang merusaknya. Berdasar acuan tersebut maka akar masalah terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
1.       Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan perannya dalam lingkungan.
2.       Kemiskinan masyarakat
3.       Keserakahan mengeksploitasi sumberdaya laut
4.       Kebijakan pengelolaan yang tak jelas
5.       Kelemahan perundangan
6.       Penegakan hukum yang lemah

Negara Guyana Perancis

Rabu, 18 April 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
      Amerika Latin (bahasa Portugis dan bahasa Spanyol: América Latina; bahasa Perancis: Amérique Latine) adalah sebutan untuk wilayah benua Amerika yang sebagian besar penduduknya merupakan penutur asli bahasa-bahasa Roman (terutama bahasa Spanyol dan bahasa Portugis) yang berasal dari bahasa Latin. Istilah Amerika Latin dipakai untuk membedakan wilayah ini dengan wilayah Anglo-Amerika yang kadang-kadang dipakai untuk menyebut wilayah benua Amerika dengan mayoritas penduduk adalah penutur asli bahasa Inggris. Pembedaan "Amerika Latin" dan "Anglo Amerika" sering dianggap sebagai pembedaan yang mengagungkan peninggalan bangsa-bangsa Eropa. Kedua istilah ini tidak mempertimbangkan fakta sebagian wilayah benua Amerika (misalnya Peru dan Guatemala) dihuni penduduk asli Amerika yang memiliki bahasa sendiri. Selain itu, masih ada lagi wilayah dengan pengaruh kebudayaan Afrika yang kuat, seperti Karibia, sebagian Kolombia, Venezuela, dan kawasan pesisir Brazil.
      Secara umum, istilah Amerika Latin hanya merujuk kepada wilayah di benua Amerika yang penduduknya masih berbicara bahasa Spanyol atau Portugis, yakni Meksiko, sebagian besar Amerika Tengah, Amerika Selatan, ditambah Kuba, Republik Dominika, Puerto Riko di Karibia. Dimana sebagian besar negara-negara di Amerika Latin ini masih merupakan negara berkembang, karena masih kuatnya pengaruh penjajahan Spayol atau Portugis di setiap wilayah. Dalam makalah yang berjudul “Negara Guyana Perancis” ini akan dibahas mengenai salah satu negara berkembang di Amerika Latin yaitu Guyana Perancis yang merupakan negara bagian Amerika Selatan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaiman kondisi umum Guyana Perancis?
2.      Bagaimanakah kondisi non fisik (sosial dan budaya) di Guyana Perancis?
3.      Bagaimanakah kondisi fisik Guyana Perancis?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan kondisi umum di Guyana Perancis.
2.      Menjelaskan kondisi non fisik (sosial dan budaya ) di Guyana Perancis.
3.      Menjelaskan kondisi fisik wilayah di Guyana Perancis.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kondisi Umum Di Guyana Perancis
                  Guyana Perancis, (Perancis: Guyane atau Guyane francaise) adalah sebuah departemen Prancis di kawasan Amazonia Amerika Selatan, berbatasan dengan Samudra Atlantik di utara, Suriname di barat dan dengan Brasil di sebelah timur dan selatan. Letak Guyana Perancis ini diatur sebagai provinsi seberang lautan Perancis dengan hak yang sama dan hak istimewa yang diberikan kepada semua departemen Perancis lainnya dan manfaat finansial dari pengaturannya.
      Secara umum letak dari Guyana Perancis ini dapat dilihat dalam peta berikut ini:

                  Dari peta dia atas terlihat salah satu kota terbesar sekaligus ibu kota negara Guyana Perancis adalah Cayenne. Guyana Perancis sendiri merupakan sebuah negara kecil dengan luas area 91.000 Km², dan kepadatan penduduknya adalah 199.509 jiwa (Juli, tahun 2006). Bahasa yang digunakan di Guyana Perancis adalalah bahasa Perancis (French), karena negara ini adalah bekas jajahan dari Perancis dan sampai saat ini Perancis pun masih berperan besar dalam pemerintahan dan politik di Guyana Perancis.

B.     Kondisi Non Fisik Di Guyana Perancis
Ø  Sejarah
            Guyana Perancis pertama kali dihuni oleh orang Perancis tahun 1604, Guyana Perancis terkenal sebagai hunian para pelanggar hukum hingga 1951. Wilayah ini kemudian berstatus département luar negeri Perancis pada 19 Maret 1946.
            Hampir sama dengan sejarah dari Negara Suriname dan Guyana, negara Guyana Perancis ini dulunya merupakan bagian dari Negara Guyana dan bekas jajahan bangsa-bangsa Eropa. Ketika bangsa-bangsa imperialis Eropa berlomba menguasai Guyana, suatu dataran luas yang terletak di antara Samudera Atlantik, Sungai Amazon, Rio Negro, Sungai Cassiquiare dan Sungai Orinoco. Semula dataran ini oleh para ahli kartografi diberi nama Guyana Karibania (Guyana yang berarti dataran luas yang dialiri oleh banyak sungai dan Karibania dari kata Caribs yaitu nama penduduk asli yang pertama kali mendiami dataran tersebut).
            Dalam suatu cerita fiktif “El Dorado”, Guyana digambarkan sebagai suatu wilayah yang kaya akan kandungan emas. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa cerita fiktif tersebut merupakan salah satu faktor yang mendorong orang-orang Eropa untuk bersaing menguasai Guyana. Pada tahun 1449 pelaut Spanyol, Alonzo de Ojeda dan Juan de la Cosa berlayar menyusuri pantai timur laut Amerika Selatan, yang saat itu mereka sebut Wild Coast, dan mendarat di wilayah Guyana. Vincent Juan Pinzon kemudian menguasai Guyana atas nama Raja Spanyol. Selama abad ke-16 dan ke-17, Guyana dikuasai silih berganti oleh Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis dan Portugal. Pada tahun 1530 Belanda mendirikan pusat perdagangan pertama di dataran tersebut. Pada tahun 1593 raja Spanyol mengambil alih dan menguasai Guyana hingga tahun 1595, yaitu ketika para bangsawan Inggris datang dan mulai mengusai daerah-daerah pantai. Sementara itu, Belanda mulai mengembangkan perdagangannya secara bertahap di daerah pedalaman. Daerah Guyana sepenuhnya jatuh ke tangan Inggris sejak tahun 1630 hingga tahun 1639. Pada tahun yang sama Belanda berhasil menguasai kembali sebagian besar Guyana sedangkan Perancis menguasai daerah-daerah di samping sungai Suriname. Akibat dari persaingan tersebut, wilayah Guyana saat ini terbagi menjadi lima bagian yaitu Guyana Espanola (bagian dari Venezuela sekarang); Inglesa (Guyana sekarang); Holandesa (Suriname); Guyana Perancis (Cayenne) dan Portuguesa (bagian dari wilayah Brazil).
Ø  Penduduk
            Sekitar 70% dari penduduk Guyana Perancis tinggal di perkotaan, selebihnya di daerah pedesaan. Mayoritas penduduk adalah orang Kreol (mulatto). Kelompok Kreol negeri ini masih memelihara pola-pola sosial Afrika, khususnya dalam hal struktur kekeluargaan. Mereka berbicara dalam dialeg Kreol Antilla.
            Orang India adalah penduduk pribumi kawasan ini. Mereka terdiri dari beberapa kelompok suku, Caribe (Galibo), Palicur, dan Arawak, yang menghuni pesisir; sedangkan suku Oyampi, Oyana, dan Emerillon tinggal di pedalaman. Kelompok Negro, yaitu keturunan para budak dari Afrika, mendiami daerah S.Maroni. mereka masih mempertahankn cara hidup suku-suku Afrika. Meraka berbicara dalam Bahasa Taki-Taki (Sranan) yang sudah dipengaruhi bahasa Inggris, Portugis, dan Belanda. Selain kelompok tersebut di atas, ada kelompok minoritas yaitu orang Perancis, Libanon, Cina, dan mulatto Haiti. Di Guyana Perancis terdapat beberapa variasi keagamaan, tetapi kelompok mayoritas adalah penganut agama Katolik Roma (sekitar 90%).
Ø  Pendidikan
            Tingkat melek huruf penduduk negeri ini telah mencapai 82% (1982). Pada tahun ajaran 1985-1986 di Guyana Perancis terdapat 76 sekolah dasar (siswa: 15.620), 8 sekolah lanjutan (siswa: 5.529), dan 1 perguruan tinggi (mahasiswa 239). Sejumlah mahasisiwa dari depatermen ini melanjutkan studi mereka ke beberapa perguruan tinggi di negara-negara Karibia atau Perancis.
Ø  Pembagian Wilayah Administrasi
            Wilayah di Guyana Perancis terbagi menjadi sembilan kota, antara lain sebagai berikut:
1.      Cayenne, merupakan ibu kota administrasi di Guyana Perancis.              
2.      Dégrad des Cannes
3.      Kourou
4.      Le Larivot                        
5.      Maripasoula             
6.      Régina          
7.      Saint–Laurent–Du–Maroni, merupakan kota yang letaknya di sepanjang sungai Maroni, yang membentuk perbatasan alami antara Suriname dan Guyana Prancis.
8.      Saül            
9.      St.Georges (Saint–Georges–de–l’Oyapock), merupakan kota yang terletak di sungai Oyapock, yang merupakan batas alam antara Brasil dan Prancis Guyana.

Ø  Politik dan Pemerintahan
            Sebagai bagian integral Perancis, Guyana Perancis dengan wilayah terbesar di luar Eropa termasuk dalam Uni Eropa. Guyana Prancis adalah situs permukiman pidana terkenal (secara kolektif dikenal sebagai Pulau Iblis) hingga tahun 1951. Badan Antariksa Eropa meluncurkan satelit komunikasi dari Kourou. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa Guyana Perancis merupakan wilayah di Amerika Selatan yang masih diperintah oleh bangsa luar negeri.
            Guyana Perancis ini merupakan depatermen yang terdiri dari dua arrondissement (setingkat kabupaten): Cayenne dan Saint-Laurent-du-Maroni. Depatermen ini dipakai oleh seorang prefek yang dibantu oleh majelis umum yang beranggotakan 16 orang. Guyana Perancis mengutus dua wakil ke Parlemen Perancis, masing-masing seorang di senat dan di Dewan Perwakilan Rakyat. Pertahanan dan keamanan depatermen ini ditangani oleh 2.700 militer, termasuk pasukan Perancis yang ditempatkan di Puasat Angkasa Luar Kourou.
Ø  Ekonomi
            Sektor pertanian, kehutanan, khususnya perikanan merupakan penunjang penting perekonomian di Guyana Perancis. Neraca perdagangan negara ini masih mengalami deficit sampai tahun 1986, sehingga masih harus banyak dibantu oleh Perancis.
            Sektor pertanian negeri ini menghasilkan tebu, beras, singkong, pisang, dan sayur mayor. Hasil hutan yakni kayu gelondongan, pada tahub 1985 sebanyak 254.000 m³. Sedangkan hasil laut, yakni udang dan ikan sebanyak 2.990 metrik ton. Hasil sektor ini secara keseluruhan bernilai F53,4 juta (1979), atau sebanyak 5,3 %dari total produk domestic bruto. Sekitar 12% dari tenaga kerja negeri terserap di sektor ini.
            Hasil pertambangan negeri ini meliputi emas, bauksit, kolumbt, kerikil dan pasir. Sedangkan hsil industry perpabrikan mencangkup susu, kayu olahan, minuman (rum, bird an sari buah), barang-barang kulit, dan pakaian jadi. Hasil sektor industry ini sebesar F 36,6 juta (1979), atau sebesar 3,7% dari total produk domestik bruto.
            Neraca perdagangan Guyana Perancis masih mengalami defisit. Ekspornya bernilai F 255,5 juta (1986), terdiri dari udang, kayu dan produk-produknya, beras dan produk logam. Nilai impornya sebesar F 2,057 milyar (1986). Barang-barang impor terdiri dari bahan makanan, mesin dan alat-alat transport, bahan bakar mineral, dan bahan-nahan kimia. Mitra dagang utama depatermen ini adalah Perancis, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Karibia.
            Transportasi di Guyana Perancis, terdapat jalan raya sepanjang 1.112 Km (1986). Di daerah pesisir, jalan raya menghubungkan Ceyenne dan Saint-Laurent-du-Maroni, dan dengan daerah perbatasan Brazillia. Sarana angkutan di pedalaman dilakukan dengan kapal-kapal sungai atau pesawat terbang. Di Rochambeau, dekat Cayenne, terdapat Bandar udara internasional yang melayani penerbangan ke Perancis, Peru, dan Brazillia. Cayenne juga merupakan kota pelabuhan. Untuk menampung kapal-kapal besar, terdapat pelabuhan di Degrad dan Cannes.

C.    Kondisi Fisik Di Guyana Perancis
                  Daratan Guyana Perancis merupakan bagian dari dataran tinggi Guyana, yang terbagi atas dua bagian: Cayenne dan Saint-Laurent-du-Maroni. Bagian-bagian dataran pesisir yang terbentuk dari deposit alluvial mencapai ketinggian sekitar 200 mdpl. Bagian tenggara daerah Cayenne berbentuk dataran rawa-rawa pesisir yang ditumbuhi pohon bakaudan rerumputan, sedangkan di sebelah barat Cayenne terdapat daerah sabana. Kawasan selebihnya diselimuti hutan lebat tropis.
                  Guyana Perancis memiliki banyak sungai, diantaranya yang mengalir dari barat ke timur adalah Sungai Oyapock, Sungai Approuague, Sungai Comte, Sungai Sinnamary, Sungai Kourou dan Sungai Maroni yang menjadi perbatasan dengan Suriname. Secara astronomis, Guyana Perancis ini terletak di 2° - 6° LU. Suhu rata-rata tahunan berkisar antara 25° - 27°C di daerah Cayenne, dengan curah hujan rata-rata 3.800 mm per tahun. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember sampai Juli, bahkan di bagian tenggara bisa lebih tinggi lagi (3.980 mm), di kawasan timur laut curah hujan agak kurang (sekitar 2.400 mm). Angin pasat timur laut tetap berhembus.
                  Sekitar 90% dari daratan Guyana Perancis diselimuti hutan hujan tropis. Hutannya terdiri dari kayu-kayu keras. Sedangkan untuk fauna, satwa liar negeri ini terdiri dari tapir, buaya kaiman, oselot, sipemalas, pemakan semut, armadillo. Terdapat juga berbagai spesies burung, di antaranya kawanan burung betet. Berbagai jenis monyet, ikan, ular, dan hewan pengerat, juga menghuni kawasan ini.




BAB III
KESIMPULAN

            Guyana Perancis merupakan suatu depatermen seberang lautan Perancis (bernama Depaterment de la Guyana Francaise), yang terletak di pesisir timurlaut Amerika Selatan. Negara ini merupakan jajahan Perancis, pada tahun 1600-an. Walaupun Guyana Perancis adalah negara yang kecil, sebenarnya dia merupakan negara yang kaya, karena memiliki pertambangan emas. Namun, karena sebagian wilayah di negara ini masih dikuasai oleh luar negeri (Perancis) maka seperti halnya Indonesia, hasil dari pertambangan sebagian besar adalah menjadi milik negara yang berkuasa (Perancis). Oleh karena itu samapai saat ini negara Guyana Perancis masih dikatakan sebagai negara berkembang, karena negara ini kecil informasi tentang keberadaan negara Guyana Perancis pun belum banyak.















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. French Guiana. http://wikitravel.org/en/French_Guiana (diunduh, 11         November 2011 pukul 18.06 WIB).